
Rabu, 21 Juli 2010
hari di mana aku balek kampung (mudik) ke kalimantan selatan.
biasanya kek taun-taun kemaren mudiknya pasti rombongan
kali ini rombongan lumayan banyak, hahaha........
dan paling menyenangkan ketika pas di bandara Adi Sutjipto ketemuan sama rombongan guru SMP ku dulu
hahahay...serasa reunian mendadak di Bandara....
guru-guru yang aku kenal yaitu Ibu Latifah, Ibu Talhah, Ibu Henny, Pa Atmadi, dan satu guru yang aku ga kenal (mungkin guru baru, pas aku udah lulus masuknya) hahahah....
satu lagi, pas Check in, temen ku Devi kebobolan uang saku gara" over bagasi 4 kg (hahah...lebay, salah sendiri bawa koper 2 buah)
penerbangan kami saat itu jam 11.20 wib, dan kami check in jam sekitar jam 9an lewat, jadi nunggu dulu selama kurang lebih satu jam di ruang tunggu, untung aja ga delay kek taun kemaren yang delaynya selama 5 jam (gila.....apes banget aku waktu itu.....damn!!!)
buzzzzzzzzzzzzzzzz...............
pesawat yang mau kami tumpangi udah landing di bandar, dan kami pun siap" dan ngantri di gate 1.
sial banget pas check in dapet kursi no 22, jadi duduk dibelakang...huuuu.......
dagdigdug.....
pukul 11.20 wib pesawat akan take off
menghubungi paman ku dulu buat nungguin di bandara Syamsuddin Noor (Banjarmasin)buat jemput....
pramugari pun udah koar" menyuruh para penumpang untuk mematikan HP
dan treeeeeeet, hp ku pun ku ganti profil doank khusus penerbangan, so pas di atas bisa foto" pemandangan....
selama perjalanan di atas pulau jawa cuaca cerah...
dan............
pas udah dekat sama pulau kalimantan, cuaca berubah drastis, dari terang menjadi gelap...
duguduk duguduk.......
penumpang kek naik delman, keguncang gara" pesawat nabrak awan hitam...
dan kekacawan pun terjadi, terjadilah gejolak dalam perutku dan isi perutku meronta" ingin di keluarkan...hahahah.......untung aku bisa nahannya.....
dan sekitar pukul 13.20 wita, pesawat pun landing di bandara Syamsuddin Noor
pas keluar pesawat rebutan lagi naik bus buat menuju ruang kedatangan, dan menunggu barang di ruang kedatangan lumayan lama dan satu lagi, gaya sok kaya...kami ber-4 nyewa trolly gara" kehabisan trolly
sumpah serapah pun dimulai, kok bisa bandara punya trolly minim banget....
huh.........
dan keluar dari bandara pamanku udah nunggu sama acil di depan, dan naik mobil menuju Kandangan kota tercinta ku...........
breeeeeeeem..............
mobil melaju menuju ke Kandangan dan mampir dulu di resto buat makan siang
dan sekitar jam 5 sore baru tiba di Kandangan.
huhuhuhu............
mudik.....mudik.....
Posted by: dhe_blog's, 0 komentarmy opinion
Posted by: dhe_blog's, 0 komentarmerangkai kata menjadi suatu kalimat yang padu yg penuh makna. tersirat sebuah gagasan yg konyol dari benak ku.
hahahaha......itu lah aku,,,,
DEWASA.........????
proses dimana seorang individu yg mengalami perkembangan fisik, akal, dan pemikirannya yg lebih matang.
dewasa itu ternyata ga segampang yg ku pikirkan, malah kata 'dewasa' ini membuatku pusing.....
semua hal yg dipikirkan pasti selalu ke arah depan,,,
whuaaah,,,,, tapi itu lah kenyataannya...
sekarang udah kuliah semester IV akhir,,,,
pemikiranku, aku pengen cepat lulus
ga ingin lg aku ini jd beban orang tua tunggal (red.ibu) yg selalu membiayai aku.
aku ingin cepat kerja, dan membantu ibu membiayai kebutuhan pendidikan adek ku yg masih duduk di sekolah dasar...
tapo terbesit dalam kata hatiku, aku pengen kuliah lagi S2........
tapi.....ya sudahlah...
sesuatu yang mustahil kalo kita benar-benar melakukannya dengan sungguh-sungguh maka atu akan terjadi dan tidak ada yang mustahilnya lagi....
aaaah,,,,,sudah nulisnya......
notes ku rada ga nyambung.....
hahahahahha....
tapi setelah nulis ini, beban pikiranku udh mulai plong.......
libur telah tiba....libur telah tiba......
Posted by: dhe_blog's, 0 komentar
libur telah tiba
libur telah tiba
hore...hore...hore....
masih ingatkah kalian sama sepenggal lirik "libur telah tiba" karya Pak A.T. Mahmud yang dinyanyikan Tasya saat masih kecil
liriknya ssederhana tapi sangat enak didengarkan dengan suara imut yang menyanyikannya.
hohohoho........
sekarang udah musim liburan (bagi anak kuliahan)...
klo biasanya orang pas musim liburan jalan" ke kota lain
tapi berhubung aku kuliah di perantauan, maka waktu liburan dimanfaatkan dengan sedemikian baiknya PULANG KAMPUNG, karena satu tahun itu hanya 2 kali bisa mudik.
huuuh...nasib....nasib.....
ooo...ya... taun ini aku mudik ke Kalsel selama sekitar 2bulanan karena taun depan dikira-kira aku mungkin tidak bisa mudik lagi, 'coz taun depan aku udah mengikuti KKN-PPL. (huuuuu,......bakalan capek)
tapi tinggal beberapa hari aku balik ke kalsel malah belum ada persiapan packing, mendengar kabar burung yg ga enak tntng byar pet yang sering terjadi di tempat tinggal ku jadi malah bikin aku males mudik... (PLN cuman janji aja tuh)
niatnya mo libur di kampung halaman, eh..ni malah disuruh uma jagain rumah yang lagi direnovasi, untung cuman 1 minggu,klo bakalan lama aku males n=banget jagainnya...ntar disuruh macam"...kan niatnya mudik mo liburan, bukan kerja...(hahhaha....dasar anak kurang ajar)
capeeeek........
Posted by: dhe_blog's, 0 komentarhaduh..... ternyata nyetrika baju yg numpuk capek juga...
kapok ah menunda" suatu pekerjaan itu, yg akhirnya bikin kita ribet sendiri.
pagi" di asrama udah kerja bakti, padahal badan udah capek bgt...selesai kerja bakti nerusin nge-packing bagasi...mo mudik ne ceritanya...ga tanggung" neh. mudik mpe 2bulan...
uh...pegal ne tangan mencet" touchscreen hp.
udh dlu ah........
malam minggu di Jogja (sebelum mudik)
Posted by: dhe_blog's, 0 komentarsatnite kata bekennya ato malming, pendapatku tentang malming adalah sama saja sama dengan malam hari biasanya. ga ada perbedaan yang khusus kecuali mereka yang bisa jalan sama pasangannya masing".... (sedih......ga punya pacar) :'(
makalah pendidikan sosial
Posted by: dhe_blog's, 0 komentarPENDIDIKAN NONFORMAL BERBASIS MASYARAKAT
ABSTRAK
Pendidikan berbasis masyarakat (community-based education) merupakan mekanisme yang memberikan peluang bagi setiap orang untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pembelajaran seumur hidup. Kemunculan paradigma pendidikan berbasis masyarakat dipicu oleh arus besar modernisasi yang menghendaki terciptanya demokratisasi dalam segala dimensi kehidupan manusia, termasuk di bidang pendidikan. Mau tidak mau pendidikan harus dikelola secara desentralisasi dengan memberikan tempat seluas-luasnya bagi partisipasi masyarakat.
Sebagai implikasinya, pendidikan menjadi usaha kolaborasi yang melibatkan partisipasi masyarakat di dalamnya. Partisipasi pada konteks ini berupa kerja sama antara warga dengan pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, menjaga dan mengembangkan aktivitas pendidikan. Sebagai sebuah kerja sama, maka masyarakat diasumsi mempunyai aspirasi yang harus diakomodasi dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu program pendidikan.
Kata kunci : pendidikan nonformal, pemberdayaan masyarakat, pendidikan berbasis masyarakat.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Pendidikan Non Formal Berbasis Masyarakat sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Sosial.
Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada ;
- Dr. Ibnu Syamsi
- Kedua orang tua kami
- Teman-teman PLB 2008
- Semua pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung telah membantu terwujudnya makalah ini.
Kami senantiasa terbuka mnerima masukan untuk perbaikan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat.
Yogyakarta, November 2009
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesulitan dan tantangan dalam kehidupan manusia baik yang diakibatkan oleh lingkungan maupun alam yang kurang bersahabat, sering memaksa manusia untuk mencari cara yang memungkinkan mereka untuk keluar dari kesulitan yang dialaminya. Masih banyaknya warga yang tidak melanjutkan pendidikan ke taraf yang memungkinkan mereka menggeluti profesi tertentu, menuntut upaya-upaya untuk membantu mereka dalam mewujudkan potensi yang dimilikinya agar dapat bermanfaat bagi pembangunan bangsa.
Sejauh ini, anggaran yang berkaitan dengan pendidikan mereka masih terbatas, sehingga berbagai upaya untuk dapat terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun pendidikan terus dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar makin tumbuh kesadaran akan pentingnya pendidikan dan mendorong masyarakat untuk terus berparisipasi aktif di dalamnya.
Bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi, pendidikan luar sekolah berusaha mencari jawaban dengan menelusuri pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan pendidikan keagamaan lainnya yang keberadaannya sudah jauh sebelum Indonesia merdeka, bertahan hidup sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar dalam masyarakat. Kelanggengan lembaga-lembaga tersebut karena tumbuh dan berkembang, dibiayai dan dikelola oleh dan untuk kepentingan masyarakat.
Dalam hubungan ini pendidikan termasuk pendidikan nonformal yang berbasis kepentingan masyarakat lainnya, perlu mencermati hal tersebut, agar keberadaanya dapat diterima dan dikembangkan sejalan dengan tuntutan masyarakat berkaitan dengan kepentingan hidup mereka dalam mengisi upaya pembangunan di masyarakatnya. Ini berarti bahwa pendidikan nonformal perlu menjadikan masyarakat sebagai sumber atau rujukan dalam penyelenggaraan program pendidikannya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep pendidikan berbasis masyarakat?
2. Apakah pendidikan nonformal berbasis masyarakat itu?
3. Bagaimana pendidikan berbasis masyarakat untuk pembangunan masyarakat?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan demokratisasi pendidikan melalui perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyaraka. Pendidikan berbasisi masyarakat menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam mengisi tantangan kehidupan yang berubah-ubah.
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada prinsip “dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat”. Pendidikan dari masyarakat artinya pendidik memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan, bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktifnya dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk dirancang untuk menjawab kebutuhan mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi peluang dan kebebasan untuk mendesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang diperlukan secara spesifik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
Menurut Michael W. Galbraith, community-based education could be defined as an educational process by which individuals (in this case adults) become more corrtpetent in their skills, attitudes, and concepts in an effort to live in gain more control over local aspects of their communities through democratic participation. Artinya, pendidikan berbasis masyarakat dapat diartikan sebagai proses pendidikan di mana individu-individu atau orang dewasa menjadi lebih berkompeten dalam keterampilan, sikap, dan konsep mereka dalam upaya untuk hidup dan mengontrol aspek-aspek lokal dari masyarakatnya melalui partisipasi demokratis.
Dengan demikian, pendekatan pendidikan berbasis masyarakat adalah salah satu pendekatan yang menganggap mesyarakat sebagai agen sekaligus tujuan, melihat pendidikan sebagai proses dan menganggap masyarakat sebagai fasilitator yang dapat menyebabkan perubahan menjadi lebih baik. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa pendidikan dianggap berbasis masyarakat jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada di tangan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat bekerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara fitrah telah dibekali potensi untuk mengatasi masalah sendiri. Baik masyarakat kota ataupun desa, mereka telah memiliki potensi untuk mengatasi masalah mereka sendiri berdasarkan sumber daya yang mereka miliki serta dengan mobilisasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi.
B. Pendidikan Nonformal Berbasis Masyarakat
Pendidikan nonformal berbasis masyarakat adalah pendidikan nonformal yang diselanggarakan oleh warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan dan berfungsi sebagai pengganti, penambah dan/pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian fungsional. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pelatihan kerja, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan serta pedidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas kembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan masyarakat, majelis taklim serta satuan pendidikan sejenis.
Dengan demikian, nampak bahwa pendidikan nonformal pada dasarnya lebih cenderung mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat yang merupakan sebuah proses dan program, yang secara esensial, berkembangnya pendidikan nonformal berbasis masyarakat akan sejalan dengan munculnya kesadaran tentang bagaimana hubungan-hubungan sosial bisa membantu pengembangan interaksi sosial yang membangkitkan concern terhadap pembelajaran berkaitan dengan masalah yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sosial, politik, lingkungan ekonomi dan faktor-faktor lain. Sementara pendidikan berbasis masyarakat sebagai program harus berlandaskan pada keyakinan dasar bahwa partisipasi aktif dari warga masyarakat adalah hal yang pokok. Untuk memenuhinya, maka partisipasi warga harus didasari kebebasan tanpa tekanan dalam kemampuan berpartisipasi dan keinginan berpartisipasi.
C. Pendidikan Berbasis Masyarakat untuk pembangunan masyarakat
Dalam upaya mendorong pada terwujudnya pendidikan nonformal berbasis masyarakat, maka diperlukan upaya untuk menjadikan pendidikan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat. Dalam hal ini diperlukan pemahaman yang tepat akan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Pembangunan/pengembangan masyarakat, khususnya masyarakat desa merupakan suatu fondasi penting yang dapat memperkuat dan mendorong makin meningkatnya pembangunan bangsa, oleh karena itu perlibatan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan nonformal dapat menjadi suatu yang memberi makna besar bagi kelancaran pembangunan.
Pengembangan masyarakat, pengembangan sosial atau pembangunan masyarakat sebagai istilah-istilah yang dimaksud dalam pembahasan ini mengandung arti yang bersamaan. Pengembangan masyarakat, terutama di daerah pedesaan, bila dibandingkan dengan daerah perkotaan jelas menunjukkan ketimpangan, sehingga memerlukan upaya yang lebih keras untuk menunjukkan suatu ketimpangan, sehingga memerlukan upaya yang lebih keras untuk mencoba lebih seimbang diantara keduanya. Pengembangan masyarakat, pengembangan sosial atau pembangunan masyarakat tersebut menunjukkan suatu upaya yang disengaja dan diorganisasi untuk memajukan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya yang dilakukan di dalam satu kesatuan Wilayah. Kesatuan wilayah itu bisa terdidri dari daerah pedesaan atau daerah perkotaan.
TR Batten menjelaskan bahwa pengembangan masyarakat ialah proses yang dilakukan oleh masyarakat dengan usaha untuk pertama-tama mendiskusikan dan menentukan kebutuhan atau keinginan mereka, kemudian merencanakan dan melaksanakan secara bersama usaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka itu (Batten, 1961). Dalam proses tersebut maka keterlibatan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut. Tahap pertama, dengan atau tanpa bimbingan pihak lain, masyarakat melakukan identifikasi masalah, kebutuhan, keinginan dan potensi-potensi yang mereka miliki. Tahap kedua, mereka menyayangi kemungkinan-kemungkinan usaha atau kegiatan yang dapat mereka lakukan, untuk memenuhi kebutuhan itu. Tahap ketiga, mereka menentukan rencana kegiatan, yaitu program yang akan dilakukan intuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam tahap keempat ini motivasi perlu dilakukan. Di samping itu komunikasi antar pelaksana terus dibina. Tahap kelima, penilaian terhadap proses pelaksanaan kegiatan, terhadap hasil kegiatan dan terhadap pengaruh kegiatan itu. Untuk kegiatan berkelanjutan, hasil evaluasi itu dijadikan salah satu masukan untuk tindak lanjut kegiatan atau untuk bahan penyusunan program kegiatan baru.
Prinsip-prinsip pengembangan masyarakat yang dikemukakan di sini ialah keterpaduan, berkelanjutan, keserasian, kemampuan sendiri (swadaya dan gotong royong), dan kaderisasi. Prinsip keterpaduan memberi tekanan bahwa kegiatan pengembangan masyarakat didasarkan pada program-program yang disusun oleh masyarakat dengan bimbingan dari lembaga-lembaga yang mempunyai hubungan tugas dalam pembangunan masyarakat. Prinsip berkelanjutan memberi arti bahwa kegiatan pembangunan masyarakat itu tidak dilakukan sekali tuntas tetapi kegiatannya terus menerus menuju ke arah yang lebih sempurna. Prinsip keserasian diterapkan pada program-program pembangunan masyarakat yang memperhatikan kepentingan masyarakat dan kepentingan pemerintah. Prinsip kemampuan sendiri berarti dalam melaksanakan kegiatan dasar yang menjadi acuan adalah kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat sendiri.
Prinsip-prinsip di atas memperjelas makna bahwa program-program pendidikan nonformal berbasis masyarakat harus dapat mendorong dan menumbuhkan semangat pengembangan masyarakat, termasuk keterampilan apa yang harus dijadikan substansi pembelajaran dalam pendidikan nonformal. Oleh karena itu, upaya untuk menjadikan pendidikan nonformal sebagai bagian dari kegiatan masyarakat memerlukan upaya-upaya yang serius agar hasil dari pendidikan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas hidup mereka.
Dalam hal ini perlu disadari bahwa pengembangan masyarakat itu akan lancar apabila di masyarakat itu telah berkembang motivasi untuk membangun serta telah tumbuh kesadaran dan semangat mengembangkan diri ditambah kemampuan serta keterampilan tertentu yang dapat menopangnya, dan melalui kegiatan pendidikan, khususnya pendidikan nonformal diharapkan dapat tumbuh suatu semangat yang tinggi untuk membangun masyarakat desanya sendiri sebagai suatu kontribusi bagi pembangunan bangsa pada umumnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari apa yang telah diuraikan terdahulu dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan Pendidikan Nonformal berbasis Masyarakat sebagai berikut :
· Pendidikan berbasis masyarakat merupakan upaya untuk lebih melibatkan masyarakat dalam upaya-upaya membangun pendidikan untuk kepentingan masyarakat dalam menjalankan perannya dalam kehidupan.
· Pendidikan nonformal berbasis masyarakat merupakan suatu upaya untuk menjadikan pendidikan nonformal lebih berperan dalam upaya membangun masyarakat dalam berbagai bidangnya, pelibatan masyarakat dalam pendidikan nonformal dapat meningkatkan peran pendidikan yang dapat secara langsung dirasakan oleh masyarakat.
· Untuk mencapai hal tersebut pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan pendidikan nonformal menjadi suatu keharusan, dalam hubungan ini diperlukan tentang pemahaman kondisi masyarakat khususnya di desa berkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya, serta turut bertanggungjawab dalam upaya terus mengembangkan pendidikan yang berbasis masyarakat, khususnya masyarakat desa.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, S. 1983. Sosiologi Pendidikan. Bandung : Usaha Nasional.
Sudjana SF, Djuju. 1983. Pendidikan Nonformal (Wawasan-Sejarah-Azas). Bandung : Theme.
Tilaar, H.A.R. 1997. Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi. Jakarta : Grasindo.
sebuah awal
Posted by: dhe_blog's, 0 komentarakhirnya setelah lama ga nulis, tenyata otak jadi susah berpikir untuk merangkai kata per kata agar terbentuk menjadi kalimat yang padu.

