Andai waktu bisa diputar balik, ingin aku bersujud dan berkata pada ayahku, “Ayah maafkan semua kesalahanku kepada ayah, aku sering melakukan kesalahan kepada ayah entah itu lisan atau perbuatan.”
Aku masih ingat ketika masih kecil, selalu dibenceng di belakang sepeda ontel. Tiap sore beliau selalu mengajakku jalan naik sepeda ke warung. Saat itu keluarga kita hidup sangat sederhana yang sangat berbeda drastis dengan kehidupan sekarang ini yang serba berkecukupan. Aku masih ingat ketika dulu aku mau minta dibelikan mainan pasti tidak dikabulkan permintaanku, tetapi aku berbeda dengan anak lain yang pasti ngamuk atau merengek-rengek minta dibelikan, aku hanya diam dan bersabar dengan keadaan. Aku juga mempunyai kaka perempuan, beda umur ku sama kaka ku 2 tahun. Aku sering diakalin kaka ku, kalau berkelahi itu wajar antar kaka dan adik. Tapi yang paling unik di antara kami berdua adalah, kami tidak pernah merasa iri ketika salah satu diantara kami dibelikan sesuatu, yang penting kami bisa berbagi. Perubahan yang terjadi dikeluarga ku sangat terasa ketika lahir seorang bayi mungil dari rahim ibu ku, dan akhirnya aku punya adik dengan beda umur 12 tahun. Adik ku terlahir prematur, karena ibuku berumur 40tahunan ketika melahirkan dan ketika itu ibuku darah tinggi. Alhamdulillah adik kecilku itu sekarang sudah besar.
Hubungan aku dengan kaka dan adikku baik-baik saja, kami bisa berbagi dan saling menjaga perasaan antarsaudara. Kami berusaha agar tidak mengecewakan orangtua kami.
Aku dan ayahku sangat jarang bicara, karena ayahku orangnya pendiam. Palingan juga sepatah dua patah dia bebicara dengan ku, tidak seperti ayah dan anak yang selalu bermain bersama. Untuk hubungan dekat atau tidak dekat antara aku dan ayahku sangat sulit diungkapkan. Walaupun ayanhku pendiam, beliau sangat sayang pada keluarga dan anak-anaknya. Misalnya saja, ketika beliau pergi ke Martapura ke tempat nenekku, pasti tidak pernah menginap di sana malah pulang hari itu juga, katanya sih tidak ingin jauh dari istri dan anak. Hal itu lah yang kurindukan dari seorang Ayah, tetapi sekarang beliau pergi untuk selamanya meninggalkan keluarganya.
(Masih Belum Selesai)
Untuk seorang Ayah
0
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

